Wednesday, March 19, 2025


Growth rate Keuangan Perusahaan


 Growth rate yang dianggap "baik" untuk sebuah perusahaan sangat bervariasi tergantung pada industri, ukuran perusahaan, tahap pertumbuhan, dan kondisi ekonomi makro. Namun, berikut adalah beberapa panduan umum untuk menilai growth rate yang baik:

1. Pertimbangan Industri

  • Industri Tumbuh Cepat (High-Growth Industries): Di industri seperti teknologi, e-commerce, atau energi terbarukan, growth rate tahunan di atas 20-30% dianggap baik karena potensi pasar yang besar dan inovasi yang cepat.

  • Industri Stabil (Mature Industries): Di industri yang sudah matang seperti manufaktur, pertanian, atau ritel, growth rate tahunan sekitar 5-15% sudah dianggap baik karena pasar yang sudah jenuh dan persaingan yang ketat.

  • Industri Siklus (Cyclical Industries): Di industri yang dipengaruhi siklus ekonomi (misalnya, properti atau otomotif), growth rate bisa sangat fluktuatif, tetapi rata-rata 10-20% selama periode ekspansi dianggap baik.


2. Tahap Pertumbuhan Perusahaan

  • Startup/Perusahaan Baru: Perusahaan di tahap awal biasanya menargetkan growth rate yang sangat tinggi, seringkali di atas 50% per tahun, karena mereka berusaha untuk menangkap pangsa pasar dan mencapai skala ekonomi.

  • Perusahaan Menengah (Growth Stage): Perusahaan yang sudah mapan tetapi masih dalam fase pertumbuhan biasanya menargetkan growth rate sekitar 20-30% per tahun.

  • Perusahaan Dewasa (Mature Stage): Perusahaan yang sudah matang dan stabil biasanya menargetkan growth rate lebih rendah, sekitar 5-10% per tahun, karena mereka sudah mendominasi pasar dan fokus pada efisiensi operasional.


3. Ukuran Perusahaan

  • Perusahaan Kecil: Perusahaan kecil seringkali dapat mencapai growth rate yang lebih tinggi (di atas 20%) karena basis pendapatan yang lebih kecil dan ruang untuk ekspansi yang lebih besar.

  • Perusahaan Besar: Perusahaan besar dengan pendapatan miliaran dolar mungkin sulit mencapai growth rate di atas 10% karena basis pendapatan yang sudah besar dan pasar yang sudah jenuh.


4. Benchmark Growth Rate yang Umum

  • Growth Rate Rendah: Di bawah 5% per tahun biasanya dianggap rendah, kecuali untuk perusahaan di industri yang sangat stabil atau sudah matang.

  • Growth Rate Sedang: 5-15% per tahun dianggap baik untuk perusahaan di industri stabil atau perusahaan besar.

  • Growth Rate Tinggi: 15-30% per tahun dianggap sangat baik, terutama untuk perusahaan di industri yang tumbuh cepat atau perusahaan menengah.

  • Growth Rate Sangat Tinggi: Di atas 30% per tahun biasanya hanya dicapai oleh perusahaan di industri high-growth atau startup yang sedang dalam fase ekspansi cepat.


5. Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Growth Rate

  • Kondisi Ekonomi: Pertumbuhan ekonomi makro yang kuat dapat mendorong growth rate perusahaan lebih tinggi, sementara resesi dapat menekan pertumbuhan.

  • Persaingan: Tingkat persaingan di industri juga memengaruhi kemampuan perusahaan untuk tumbuh. Di industri yang kompetitif, growth rate yang lebih rendah mungkin sudah dianggap baik.

  • Regulasi: Perubahan regulasi pemerintah dapat memengaruhi pertumbuhan perusahaan, baik secara positif maupun negatif.


6. Contoh Growth Rate di Industri Kelapa Sawit

Berdasarkan data yang diberikan, perusahaan kelapa sawit mengalami penurunan produksi, pendapatan, dan laba bersih. Untuk industri kelapa sawit, growth rate yang baik biasanya berkisar antara 10-20% per tahun, tergantung pada:

  • Harga CPO dan PK: Fluktuasi harga komoditas sangat memengaruhi pendapatan.

  • Ekspansi Lahan: Kemampuan untuk menambah luas lahan dan meningkatkan produktivitas.

  • Diversifikasi Produk: Perusahaan yang berhasil diversifikasi ke produk bernilai tinggi (seperti oleochemicals atau biodiesel) dapat mencapai growth rate yang lebih tinggi.


7. Kesimpulan

  • Growth rate yang baik sangat bergantung pada konteks industri, ukuran perusahaan, dan tahap pertumbuhan.

  • Untuk perusahaan kelapa sawit, growth rate sekitar 10-20% per tahun dapat dianggap baik jika didukung oleh peningkatan produksi, diversifikasi produk, dan efisiensi operasional.

  • Jika perusahaan Anda saat ini memiliki growth rate 24,16% tetapi tidak tercapai, perlu dilakukan evaluasi mendalam untuk mengidentifikasi hambatan dan merancang strategi yang tepat.


8. Rekomendasi untuk Meningkatkan Growth Rate

  • Fokus pada Produktivitas: Meningkatkan produktivitas lahan dan produksi TBS Kebun.

  • Diversifikasi Produk: Mengembangkan produk turunan bernilai tinggi seperti oleochemicals atau biodiesel.

  • Ekspansi Pasar: Mencari pasar baru, baik domestik maupun internasional.

  • Efisiensi Biaya: Mengurangi biaya operasional dan produksi untuk meningkatkan margin laba.

  • Investasi Teknologi: Mengadopsi teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi.

Dengan langkah-langkah ini, perusahaan dapat mencapai growth rate yang lebih baik dan berkelanjutan.

Growth rate tercapai tapi kenapa masih rugi?Jika growth rate tercapai (misalnya, pendapatan atau produksi tumbuh sesuai target), tetapi perusahaan masih mengalami kerugian, hal ini menunjukkan adanya masalah mendasar dalam manajemen biaya, struktur keuangan, atau strategi operasional. Berikut adalah analisis mendalam tentang mengapa hal ini bisa terjadi dan rekomendasi untuk mengatasinya:

1. Penyebab Growth Rate Tercapai tapi Masih Rugi

A. Biaya Operasional yang Tinggi

  • Biaya Produksi Meningkat: Meskipun pendapatan tumbuh, biaya produksi (seperti biaya bahan baku, tenaga kerja, atau energi) mungkin meningkat lebih cepat, sehingga margin laba menyusut atau bahkan negatif.

  • Biaya Tetap yang Besar: Perusahaan mungkin memiliki biaya tetap (seperti sewa, gaji, atau penyusutan) yang terlalu besar, sehingga pendapatan yang tumbuh tidak cukup untuk menutupi biaya-biaya ini.

B. Harga Jual yang Rendah

  • Tekanan Harga Pasar: Jika harga jual produk (misalnya, CPO atau PK) turun karena persaingan atau fluktuasi pasar, pendapatan yang tumbuh mungkin tidak cukup untuk menutupi biaya produksi.

  • Diskon atau Insentif: Perusahaan mungkin memberikan diskon atau insentif besar-besaran untuk meningkatkan penjualan, yang mengurangi margin keuntungan.

C. Ketidakseimbangan antara Pertumbuhan dan Efisiensi

  • Pertumbuhan Tidak Efisien: Perusahaan mungkin tumbuh dengan cara yang tidak efisien, misalnya dengan menambah biaya pemasaran atau operasional yang tidak proporsional dengan pendapatan yang dihasilkan.

  • Ekspansi Berlebihan: Jika perusahaan melakukan ekspansi terlalu cepat (misalnya, menambah lahan atau kapasitas produksi), biaya ekspansi ini mungkin belum terbayar oleh pendapatan yang dihasilkan.

D. Masalah Struktur Keuangan

  • Beban Bunga yang Tinggi: Jika perusahaan memiliki utang besar, beban bunga yang tinggi dapat menggerogoti laba, bahkan jika pendapatan tumbuh.

  • Arus Kas Negatif: Pertumbuhan pendapatan tidak selalu berarti arus kas positif. Jika perusahaan memiliki piutang yang besar atau persediaan yang menumpuk, arus kas bisa negatif meskipun pendapatan tumbuh.

E. Faktor Eksternal

  • Fluktuasi Harga Komoditas: Untuk perusahaan kelapa sawit, fluktuasi harga CPO dan PK dapat memengaruhi pendapatan dan laba.

  • Biaya Logistik atau Pajak yang Tinggi: Biaya logistik, pajak, atau regulasi baru dapat meningkatkan biaya operasional.


2. Contoh Kasus dari Data yang Diberikan

Berdasarkan data yang Anda berikan:

  • Pendapatan Tumbuh: Misalnya, pada tahun 2017, pendapatan mencapai Rp 478,61 miliar, tetapi laba bersih hanya Rp 20,07 miliar.

  • Kerugian Mulai 2018: Meskipun pendapatan pada tahun 2018 adalah Rp 374,17 miliar, perusahaan mengalami kerugian besar (Rp -21,53 miliar). Hal ini menunjukkan bahwa biaya operasional atau beban lainnya lebih besar daripada pendapatan.


3. Rekomendasi untuk Mengatasi Kerugian

A. Meningkatkan Efisiensi Biaya

  • Optimasi Biaya Produksi: Mengurangi biaya bahan baku, energi, dan tenaga kerja melalui negosiasi dengan pemasok atau adopsi teknologi yang lebih efisien.

  • Mengurangi Biaya Tetap: Menegosiasikan ulang kontrak sewa atau mengurangi biaya overhead yang tidak perlu.

B. Meningkatkan Margin Keuntungan

  • Menjual Produk Bernilai Tinggi: Fokus pada produk dengan margin tinggi, seperti oleochemicals atau biodiesel, daripada hanya menjual CPO dan PK.

  • Meningkatkan Harga Jual: Jika memungkinkan, menaikkan harga jual dengan meningkatkan kualitas produk atau menawarkan nilai tambah.

C. Mengelola Utang dan Beban Bunga

  • Restrukturisasi Utang: Menegosiasikan ulang syarat utang untuk mengurangi beban bunga.

  • Mengurangi Ketergantungan pada Utang: Mencari sumber pendanaan alternatif, seperti ekuitas atau reinvestasi laba.

D. Meningkatkan Manajemen Arus Kas

  • Mengurangi Piutang: Mempercepat penagihan piutang untuk meningkatkan arus kas.

  • Mengelola Persediaan: Mengurangi persediaan yang menumpuk untuk menghemat biaya penyimpanan.

E. Fokus pada Pertumbuhan yang Berkelanjutan

  • Pertumbuhan Bertahap: Menghindari ekspansi terlalu cepat yang dapat meningkatkan biaya secara drastis.

  • Evaluasi Proyek Ekspansi: Memastikan bahwa setiap proyek ekspansi memiliki ROI (Return on Investment) yang positif.

F. Analisis Kompetitif

  • Benchmarking: Membandingkan kinerja perusahaan dengan pesaing untuk mengidentifikasi area perbaikan.

  • Strategi Pemasaran yang Efektif: Mengalokasikan biaya pemasaran secara efisien untuk meningkatkan penjualan tanpa mengorbankan margin.


4. Kesimpulan

  • Growth rate yang tercapai tidak selalu menjamin profitabilitas jika biaya operasional, struktur keuangan, atau strategi pertumbuhan tidak dikelola dengan baik.

  • Perlu analisis mendalam terhadap biaya, margin, dan struktur keuangan untuk mengidentifikasi penyebab kerugian.

  • Fokus pada efisiensi, margin keuntungan, dan manajemen keuangan adalah kunci untuk mengubah pertumbuhan pendapatan menjadi laba yang berkelanjutan.


5. Langkah Awal yang Dapat Dilakukan

  • Audit Keuangan: Melakukan audit menyeluruh untuk mengidentifikasi biaya yang tidak perlu atau area yang tidak efisien.

  • Analisis Margin: Memeriksa margin keuntungan setiap produk atau segmen bisnis untuk menentukan area yang paling menguntungkan.

  • Rencana Aksi Jangka Pendek: Menyusun rencana aksi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan margin dalam 6-12 bulan ke depan.

Dengan langkah-langkah ini, perusahaan dapat mengatasi kerugian meskipun growth rate tercapai, dan bergerak menuju profitabilitas yang berkelanjutan.


Menghitung Ancak Panen Kelapa Sawit

 Menghitung ancak panen (target panen) untuk pemanen kelapa sawit melibatkan beberapa faktor, seperti produktivitas kebun, jumlah pohon, kondisi tanaman, dan kapasitas pemanen. Berikut adalah langkah-langkah untuk menghitung ancak panen kelapa sawit:


1. Hitung Jumlah Pohon Produktif per Hektar

  • Tentukan jumlah pohon kelapa sawit yang produktif (biasanya pohon berumur 3 tahun ke atas).

  • Contoh: Jika terdapat 120-140 pohon per hektar (tergantung jarak tanam), dan 95% produktif, maka jumlah pohon produktif per hektar = 120 x 0,95 = 114 pohon.


2. Estimasi Produktivitas per Pohon

  • Tentukan rata-rata produksi Tandan Buah Segar (TBS) per pohon per bulan. Ini bisa bervariasi tergantung usia tanaman, varietas, dan perawatan.

  • Contoh: Jika rata-rata produksi per pohon adalah 10-15 kg TBS per bulan, gunakan nilai tengah, misalnya 12,5 kg/pohon/bulan.


3. Hitung Produksi per Hektar per Bulan

  • Kalikan jumlah pohon produktif dengan produksi per pohon.

  • Contoh: 114 pohon x 12,5 kg/pohon/bulan = 1.425 kg/hektar/bulan.


4. Konversi ke Satuan Ton

  • Konversi kg ke ton (1 ton = 1.000 kg).

  • Contoh: 1.425 kg = 1,425 ton/hektar/bulan.


5. Hitung Luas Areal yang Akan Dipanen

  • Tentukan luas areal kebun yang akan dipanen dalam satu bulan.

  • Contoh: Jika luas areal panen adalah 50 hektar, maka total produksi = 50 hektar x 1,425 ton/hektar/bulan = 71,25 ton/bulan.


6. Faktor Koreksi

  • Pertimbangkan faktor koreksi seperti:

    • Kondisi cuaca (musim hujan atau kemarau).

    • Serangan hama atau penyakit.

    • Ketersediaan tenaga pemanen.

  • Misalnya, jika diperkirakan ada penurunan produksi sebesar 10% karena cuaca, maka produksi menjadi 71,25 ton x 0,9 = 64,125 ton/bulan.


7. Kapasitas Pemanen

  • Hitung kapasitas pemanen per hari. Misalnya, satu pemanen dapat memanen 1 ton TBS per hari.

  • Jika target panen adalah 64,125 ton/bulan, maka dalam 25 hari kerja (asumsi 1 bulan = 25 hari kerja), kebutuhan pemanen adalah:

    64,125 ton25 hari=2,565 ton/hari

    Jika satu pemanen bisa memanen 1 ton/hari, maka dibutuhkan 3 pemanen (dibulatkan ke atas).


8. Rencana Panen Harian

  • Buat rencana panen harian berdasarkan target bulanan.

  • Contoh: 64,125 ton/bulan ÷ 25 hari = 2,565 ton/hari.


9. Monitoring dan Evaluasi

  • Lakukan monitoring harian atau mingguan untuk memastikan target panen tercapai.

  • Sesuaikan rencana jika ada perubahan kondisi lapangan.


Contoh Perhitungan Lengkap:

  • Luas areal: 50 hektar

  • Jumlah pohon produktif: 114 pohon/hektar

  • Produksi per pohon: 12,5 kg/bulan

  • Total produksi: 50 hektar x 114 pohon x 12,5 kg = 71,25 ton/bulan

  • Faktor koreksi (10%): 71,25 ton x 0,9 = 64,125 ton/bulan

  • Kebutuhan pemanen: 64,125 ton ÷ 25 hari = 2,565 ton/hari (3 pemanen).

Dengan perhitungan ini, Anda dapat menentukan ancak panen (target panen) dan kebutuhan tenaga pemanen untuk kebun kelapa sawit.


Dalam budidaya kelapa sawit, ancak merujuk pada sistem pengaturan panen yang melibatkan pembagian area kebun untuk memastikan efisiensi dan produktivitas. Ada tiga jenis ancak yang umum digunakan:

  1. Ancak Tetap

  2. Ancak Giring

  3. Ancak Giring Tetap

Berikut penjelasan dan cara menentukan sistem ancak yang sesuai:


1. Ancak Tetap

  • Definisi: Setiap pemanen memiliki area tetap (blok tertentu) yang harus dipanen secara rutin.

  • Cara Menentukan:

    • Bagi kebun menjadi blok-blok tetap berdasarkan luas areal dan jumlah pemanen.

    • Setiap pemanen bertanggung jawab atas blok tertentu dan memanen sesuai jadwal.

    • Contoh: Jika kebun memiliki 100 hektar dan 10 pemanen, setiap pemanen mendapatkan 10 hektar sebagai area tetap.

  • Keuntungan:

    • Pemanen lebih mengenal kondisi bloknya.

    • Mudah dalam monitoring dan evaluasi.

  • Kekurangan:

    • Jika produktivitas blok tidak merata, pemanen di blok kurang produktif akan kesulitan memenuhi target.


2. Ancak Giring

  • Definisi: Pemanen tidak memiliki area tetap, tetapi bergerak (digiring) ke area yang siap panen berdasarkan prioritas.

  • Cara Menentukan:

    • Identifikasi area yang memiliki buah siap panen (matang) berdasarkan monitoring rutin.

    • Alokasikan pemanen ke area tersebut secara fleksibel.

    • Contoh: Jika blok A memiliki lebih banyak buah matang daripada blok B, pemanen akan difokuskan ke blok A.

  • Keuntungan:

    • Efisiensi panen lebih tinggi karena fokus pada area yang siap panen.

    • Mengurangi risiko buah terlalu matang atau busuk.

  • Kekurangan:

    • Membutuhkan koordinasi dan monitoring yang intensif.

    • Pemanen kurang mengenal area tertentu, sehingga mungkin memengaruhi kualitas panen.


3. Ancak Giring Tetap

  • Definisi: Kombinasi antara ancak tetap dan ancak giring. Pemanen memiliki area tetap, tetapi dapat digiring ke area lain jika diperlukan.

  • Cara Menentukan:

    • Bagi kebun menjadi blok-blok tetap untuk setiap pemanen.

    • Jika ada blok dengan buah matang lebih banyak, pemanen dari blok lain dapat dialihkan sementara untuk membantu.

    • Contoh: Pemanen di blok A dapat membantu memanen di blok B jika blok B memiliki buah matang lebih banyak.

  • Keuntungan:

    • Fleksibilitas tinggi dalam mengoptimalkan panen.

    • Pemanen tetap memiliki area tanggung jawab utama.

  • Kekurangan:

    • Membutuhkan koordinasi yang baik antara pemanen dan manajemen.


Faktor yang Memengaruhi Pemilihan Sistem Ancak

  1. Luas Kebun:

    • Kebun kecil cenderung menggunakan ancak tetap.

    • Kebun besar lebih cocok menggunakan ancak giring atau ancak giring tetap.

  2. Produktivitas Kebun:

    • Jika produktivitas merata, ancak tetap lebih mudah diterapkan.

    • Jika produktivitas bervariasi, ancak giring atau ancak giring tetap lebih efektif.

  3. Jumlah Pemanen:

    • Jumlah pemanen yang cukup memungkinkan penggunaan ancak giring tetap.

    • Jika jumlah pemanen terbatas, ancak tetap lebih realistis.

  4. Kondisi Lapangan:

    • Jika kebun memiliki topografi yang sulit, ancak tetap lebih mudah dikelola.

    • Jika kebun datar dan mudah diakses, ancak giring bisa lebih efisien.


Contoh Penerapan

  • Kebun Kecil (50 hektar):

    • Gunakan ancak tetap dengan membagi kebun menjadi 5 blok (10 hektar per pemanen).

  • Kebun Besar (500 hektar):

    • Gunakan ancak giring tetap dengan membagi kebun menjadi 50 blok (10 hektar per pemanen), tetapi pemanen dapat dipindahkan sementara ke blok lain jika diperlukan.


Kesimpulan

Pemilihan sistem ancak tergantung pada kondisi kebun, produktivitas, dan jumlah pemanen. Ancak tetap cocok untuk kebun kecil dengan produktivitas merata, sementara ancak giring atau ancak giring tetap lebih efektif untuk kebun besar dengan produktivitas bervariasi. Evaluasi rutin dan koordinasi yang baik antara pemanen dan manajemen sangat penting untuk memastikan sistem ancak berjalan optimal.


Gambaran nyata tentang penerapan ancak tetapancak giring, dan ancak giring tetap dalam kebun kelapa sawit.


1. Ancak Tetap

Gambaran Penerapan:

  • Kebun dibagi menjadi beberapa blok tetap, dan setiap pemanen bertanggung jawab penuh atas blok tersebut.

  • Pemanen hanya memanen di blok yang telah ditentukan, terlepas dari apakah blok lain memiliki lebih banyak buah matang atau tidak.

Contoh:

  • Misalnya, kebun seluas 100 hektar dibagi menjadi 10 blok, masing-masing 10 hektar.

  • Setiap pemanen (misalnya, 10 pemanen) mendapatkan 1 blok tetap (10 hektar) yang harus dipanen secara rutin.

  • Jika blok A memiliki 10 ton TBS (Tandan Buah Segar) dan blok B hanya 5 ton, pemanen di blok A tetap memanen 10 ton, dan pemanen di blok B hanya memanen 5 ton.

Keuntungan:

  • Mudah diatur karena setiap pemanen memiliki area tanggung jawab yang jelas.

  • Cocok untuk kebun dengan produktivitas merata.

Kekurangan:

  • Jika produktivitas blok tidak merata, pemanen di blok kurang produktif mungkin tidak mencapai target.


2. Ancak Giring

Gambaran Penerapan:

  • Pemanen tidak memiliki area tetap, tetapi dipindahkan (digiring) ke area yang memiliki buah matang lebih banyak berdasarkan prioritas.

  • Manajemen kebun melakukan monitoring rutin untuk menentukan area mana yang siap panen.

Contoh:

  • Kebun seluas 100 hektar tidak dibagi menjadi blok tetap.

  • Setiap hari, manajer kebun memeriksa area mana yang memiliki buah matang lebih banyak.

  • Misalnya, hari ini area X memiliki 15 ton TBS matang, sedangkan area Y hanya 5 ton.

  • Semua pemanen (misalnya, 10 pemanen) akan difokuskan ke area X untuk memanen 15 ton TBS.

  • Besok, jika area Y memiliki lebih banyak buah matang, pemanen akan dipindahkan ke area Y.

Keuntungan:

  • Efisiensi panen lebih tinggi karena fokus pada area yang siap panen.

  • Mengurangi risiko buah terlalu matang atau busuk.

Kekurangan:

  • Membutuhkan koordinasi dan monitoring yang intensif.

  • Pemanen kurang mengenal area tertentu, sehingga mungkin memengaruhi kualitas panen.


3. Ancak Giring Tetap

Gambaran Penerapan:

  • Kombinasi antara ancak tetap dan ancak giring. Setiap pemanen memiliki area tetap, tetapi dapat dipindahkan sementara ke area lain jika diperlukan.

  • Biasanya digunakan ketika ada ketidakseimbangan produktivitas antar blok.

Contoh:

  • Kebun seluas 100 hektar dibagi menjadi 10 blok, masing-masing 10 hektar.

  • Setiap pemanen (10 pemanen) memiliki 1 blok tetap (10 hektar) sebagai tanggung jawab utama.

  • Misalnya, hari ini blok A memiliki 15 ton TBS matang, sedangkan blok B hanya 5 ton.

  • Pemanen di blok B (yang hanya perlu memanen 5 ton) dapat membantu memanen di blok A setelah menyelesaikan bloknya.

  • Dengan demikian, blok A yang memiliki lebih banyak buah matang dapat dipanen lebih cepat.

Keuntungan:

  • Fleksibilitas tinggi dalam mengoptimalkan panen.

  • Pemanen tetap memiliki area tanggung jawab utama, tetapi dapat membantu di area lain jika diperlukan.

Kekurangan:

  • Membutuhkan koordinasi yang baik antara pemanen dan manajemen.

  • Pemanen harus lebih terampil karena harus bekerja di area yang berbeda.


Perbandingan dalam Bentuk Tabel

AspekAncak TetapAncak GiringAncak Giring Tetap
Area PemanenTetap (1 blok per pemanen)Fleksibel (tidak ada blok tetap)Tetap, tetapi bisa dipindahkan
KoordinasiMudahIntensifSedang
Efisiensi PanenRendah (jika produktivitas tidak merata)TinggiTinggi
Keterampilan PemanenTetap (hanya mengenal 1 blok)Harus adaptif (bekerja di banyak blok)Harus adaptif (bekerja di banyak blok)
Cocok UntukKebun kecil, produktivitas merataKebun besar, produktivitas bervariasiKebun besar dengan produktivitas bervariasi

Contoh Kasus Nyata

Kebun Seluas 200 Hektar:

  • Ancak Tetap:

    • Bagi kebun menjadi 20 blok (10 hektar per blok).

    • Setiap pemanen (20 pemanen) bertanggung jawab atas 1 blok.

    • Jika blok A menghasilkan 12 ton dan blok B hanya 6 ton, pemanen di blok A memanen 12 ton, dan pemanen di blok B hanya 6 ton.

  • Ancak Giring:

    • Tidak ada blok tetap.

    • Setiap hari, manajer menentukan area mana yang siap panen.

    • Misalnya, hari ini area X menghasilkan 20 ton, maka semua pemanen difokuskan ke area X.

  • Ancak Giring Tetap:

    • Bagi kebun menjadi 20 blok (10 hektar per blok).

    • Setiap pemanen memiliki blok tetap, tetapi jika blok A menghasilkan 20 ton dan blok B hanya 5 ton, pemanen di blok B dapat membantu memanen di blok A setelah menyelesaikan bloknya.


Kesimpulan

  • Ancak Tetap: Cocok untuk kebun kecil dengan produktivitas merata.

  • Ancak Giring: Cocok untuk kebun besar dengan produktivitas bervariasi, tetapi membutuhkan koordinasi intensif.

  • **Ancak Giring